Tuesday, January 21, 2020

DILEMA IMPOR BERAS DI SAAT NERACA PERDAGANGAN DEFISIT


DILEMA IMPOR BERAS DI SAAT NERACA PERDAGANGAN DEFISIT
*Oleh: Kuncari Isnawati



Isu pangan di negeri ini selalu menjadi polemik yang tiada henti. Ketersediaan stok beras selalu menjadi perdebatan di pemerintah antara keputusan untuk melakukan impor atau tidak. Ingin melakukan impor, tetapi kondisi nilai tukar rupiah melemah.  Selain itu, upaya untuk meningkatkan cadangan devisa ditengah nilai tukar rupiah yang lemah untuk tidak melakukan impor, namun kenyataannya izin untuk impor beras sebanyak 2 juta ton telah terbit izinnya. Dilansir dari Koran Jakarta,15-16 September 2018 terkait impor beras yaitu: “Tak tanggung-tanggung, pemerintah telah menerbitkan izin impor beras sebanyak 2 juta ton.”
Tak hanya permasalahan izin impor yang telah diterbitkan, tetapi adanya perbedaan data yang menjadi acuan Badan Urusan Logistik yang menjelaskan bahwa ketersediaan beras sampai akhir tahun masih cukup yaitu 2,4 juta ton namun pemerintah memberikan izin, di Kementerian Perdagangan melakukan impor beras. Kesenjangan ini yang masih menjadi polemik.
Meniliki data dari Kementrian Pertanian yang menyatakan bahwa sejak awal tahun produksi beras nasional surplus sehingga tak perlu tambahan impor.( Koran Jakarta, hal.6,15-16 September 2018). Dari pernyataan ini, jelas terlihat bahwa ada perbedaan kebijakan yang diambil oleh pemerintah terkait impor. Bulog dan Kementerian Pertanian memiliki satu suara yang sama terkait ketersediaan beras nasional.
            Tak bisa dipungkiri, bahwa Badan Pusat Statistik ikut andil dalam menyediakan data kebutuhan data produksi beras nasional. Dari uraian ini, antara Badan Urusan Logistik (Bulog), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta Badan Pusat Statistik seharusnya saling bersinergi terkait data kebutuhan beras ataupun ketersedian beras nasional. Hal ini  dilakukan agar data terkait petani, jumlah data produksi beras sama diantara kementerian tersebut. Data sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Data yang disajikan salah atau berbeda-beda disetiap kementerian yang terkait data pangan, maka keputusan yang diambil pun akan berpengaruh. Pengaruhnya bisa ke berbagai aspek seperti aspek ekonomi, politik, dan sosial masyarakat.
            Dilema impor beras merupakan salah satu contoh fenomena ekonomi. Hal ini sesuai dengan teori birokrasi dan peran negara yang menyebutkan bahwa fenomena ekonomi, kesejahteraan individu dan kemajuan ekonomi tidak hanya sekedar produk dari transaksi pasar tanpa melibatkan negara, kelembagaan, dan faktor-faktor nonekonomi lainnya. Dalam kenyataannya, ternyata hukum, peraturan, pendidikan, dan aspek lainnya ikut menentukan perkembangan ekonomi. Dari teori ini, penulis mengungkapkan bahwa peraturan memiliki peran penting dalam aspek ekonomi, termasuk masalah impor beras.
            Dilansir dari Liputan6.com ,  data impor beras sejak tahun 2014 sebanyak 2,5 juta ton, tahun 2015-2016sebanyak 1,5 juta ton, dan tahun 2018 500 ton, 500 ton, dan 1 juta ton. Dari data ini, terlihat bahwa tahun 2018 ini, impor beras dilakukan secara berangsur dan yang terkahir akan mengimpor sebanyak 1 juta ton beras. Total keseluruhan menjadi 2 juta ton beras. Hal ini tentu berpengaruh terhadap cadangan devisa negara untuk transaksi pembayaran beras tersebut. Selain itu, riwayat dari tahun ke tahun Indonesia selalu impor beras untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan memiliki lahan luas untuk pertanian. Kesenjangan ini yang menjadi permasalahan nasional. Harus ada langkah-langkah maksimal untuk menanggulangi ketersedian beras nasional.
            Berbagai spekulasi muncul akibat keputusan impor beras ditengah nilai rupiah yang melemah saat ini. Diantaranya, izin impor beras telah diterbitkan dan transaksi yang sudah dilakukan. Artiya, pemerintah menjalankan peraturan yang telah dibuatnya walaupun kondisi nilai tukar rupiah melemah. Selain itu, adanya keputusan harus tersedia stok beras di Bulog yaitu 1 jut ton. Ibaratnya,  lumbung beras yang batasan minimal di stok gudang adalah 1 juta ton. Jika kurang dari 1 juta ton, maka lumbung beras itu akan dipenuhi lagi.  Kemudian alasan lainnya, impor beras dilakukan untuk menjaga ketersediaan beras nasional. Spekulasi ini muncul diakibatkan berbagai media menyorot keputusan impor beras ditengah rupiah yang sedang melemah.
            Jika menilik neraca perdagangan selama kurun waktu Januari-Juli 2018 defisit neraca perdagangan sudah mencapai USD 3,09 miliar (Koran Sindo, 15 September 2018). Dari data ini menjadi perhatian bahwa di saat neraca perdagangan mengalami defisit, namun kegiatan impor, termasuk impor beras dilakukan. Dampak dari hal ini maka cadangan devisa semakin menipis. Neraca perdagangan defisit disebabkan jumlah impor lebih besar daripada ekspor. Data  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor bulan Januari hingga Juli 2018 mencapai 107,32 miliar dollar AS atau tumbuh sebesar 24,48%  dibanding periode Januari hingga Juli tahun 2017. Data  Badan Pusat StatistikPemerintah harus mengambil tindakan-tindakan yang solutif agar neraca perdagangan tidak defisit lagi. Banyak hal yang dilakukan agar neraca perdagangan tidak negatif. Salah satunya adalah peningkatan ekspor barang sehingga bisa menambah cadangan devisa Indonesia dan neraca perdagangan bisa surplus.
           
            Dari berbagai permasalahan adanya solusi yang ditawarkan oleh penulis untuk mengatasi masalah impor beras dan ketersedian beras nasional serta meningkatkan cadangan devisa yaitu, pertama: harus dibuka lahan pertanian selain di pulau Jawa. Misalnya di pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. 2 pulau terbesar ini bisa dimaksimalkan untuk perluasan tanaman padi. Hal ini tentu terkait dengan kebijakan atau aturan terkait lahan yang akan digunakan untuk membuka lahan pertanian untuk padi. Berikut ini data terkait luas lahan sawah pada tahun 2015 yang ada di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi dan telah di perbaharui oleh Badan Pusat Statistik tanggal 6 Februari 2018.

KALIMANTAN BARAT
330.724 ha
KALIMANTAN TENGAH
196.553 ha
KALIMANTAN SELATAN
450.152 ha
KALIMANTAN TIMUR
57.000 ha
KALIMANTAN UTARA
21.448 ha








Sumber: Badan Pusat Statistik


Data yang tertera telihat  jelas bahwa di Pulau Kalimantan perlu diadakan intensifikasi lahan pertanian sawah. Misalnya di Kalimatan Timur, luas lahan sawah hanya 57.000 ha, di Kalimantan Utara hanya 21.448 ha. Harusnya hal ini bisa ditambah lagi agar lahan pertanian semakin luas .  Dampak jika ada ada kebijakan ini maka diharapkan ketersediaan beras di daerah terpenuhi. Dalam hal ini, harus ada kebijakan yang menjadi payung hukum untuk realisasi peluasan lahan sawah ini




            Data luas lahan sawah untuk Pulau Sulawesi yaitu:

SULAWESI UTARA
55.820 ha
SULAWESI TENGAH
128.323 ha
SULAWESI SELATAN
628.148 ha
SULAWESI TENGGARA
103.812 ha
GORONTALO
32.058 ha
SULAWESI BARAT
61.292 ha
 Sumber: Badan Pusat Statistik

Data di atas menunjukkan bahwa, perlu dilakukan intensifikasi lahan persawahan untuk Sulawesi Utara yang saat ini tercatat memiliki luas lahan sawah 55.820 hektar, kemudian, Gorontalo yang hanya 32.058 hektar, serta Sulawesi Barat 61.292 hektar.  Hal ini dilakukan agar daerah mampu menyediakan ketersediaan beras sendiri. Jika setiap provinsi memaksimalkan lahan pertanian untuk area persawahan, maka ketersedian beras di daerah maupun nasional dapat terpenuhi. Gambarannya, 5 pulau besar di Indonesia yaitu: Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Sumatera dan Papua memiliki target untuk perluasan tanaman padi di lahan-lahan yang masih kosong. Tentunya, tetap memperhatikan kelestarian hutan saat membuka lahan untuk pertanian tersebut. Jika 5 pulau besar ini berhasil diterapkan kebijakan untuk perluasan area persawahan atau area lahan pertanian padi, maka diharapkan ada perwakilan setiap provinsi dari 5 pulau besar tersebut yang menjadi pusat lumbung padi khusus untuk masing-masing pulau tersebut. Misalnya, Pulau Sulawesi yang memiliki area luas lahan sawah yang paling besar yaitu provinsi Sulawesi Selatan. Maka provinsi ini bisa menjadi pusat lumbung padi untuk kawasan Sulawesi, jika suatu saat provinsi lain di pulau Sulawesi kekurangan stok beras, maka Sulawesi Selatan bisa membantu provinsi tersebut. Begitu juga untuk pulau-pulau besar lainnya. Intinya, ada asas gotong royong dalam penyedian beras di provinsi masing-masing dengan intensifikasi lahan pertanian padi.
                Jika menilik data luas panen padi menurut provinsi pada tahun 2015, maka Jawa Timur menempati peringkat pertama dengan luas 2.152.070 ha, peringkat ke-2 oleh Jawa Tengah yaitu 1.875.793 ha, peringkat 3 yaitu 1..857.612 ha, dan peringkat 4 Sulawesi Selatan sebesar 1.044.030 ha. Dari data ini, terihat jelas bahwa 4 provinsi ini yang memiliki luas panen padi yang paling banyak daripada 30 provinsi lain. Oleh sebab itu, perlu dilakukan intensifikasi lahan pertanian padi untuk 30 provinsi lain agar tercipta kemandirian pangan terutama komoditas padi di daerahnya masing-masing. Masalah pangan yang tidak terpenuhi maka akan menimbulkan kelaparan dimana-mana. Seperti kasus di negara Yaman yang mengalami risiko kelaparan akibat pangan yang kurang tersedia akibat berbagai konflik dan terjadi peningkatan harga pangan dan juga nilai mata uang yang merosot.
            Solusi yang kedua yaitu, membuat irigasi, waduk-waduk, bendungan untuk irigasi area persawahan. Perlu ditinjau kembali, lokasi-lokasi yang sesuai untuk dibangun hal tersebut. Manfaat dari dibangun ini, maka akan memudahkan petani mengairi sawahnya, selain itu untuk mencegah lahan sawah agar tidak kering. Irigasi ibarat jantung sawah yang jika tidak ada maka tanaman padi yang  ditanam bisa gagal panen.
            Solusi ketiga yaitu, perlunnya kemudahan untuk mendapatkan pupuk bagi petani. Saat ini petani mengeluhkan susah mendapat pasokan pupuk. Selain itu, adanya beredar pupuk palsu yang dijual oknum tertentu sehingga merugikan masyarakat. Hal ini perlu perhatian khusus dari pemerintah untuk memberikan pengawasan dan akses kemudahan bagi petani guna mendapatkan pupuk. Diberlakukan Koperasi Unit Desa (KUD) dengan manajemen yang baik. Hal ini juga untuk mengembalikan citra dan fungsi koperasi di setiap daerah.
            Solusi keempat yaitu, adanya program penyuluhan di setiap kelurahan atau desa agar petani mendapatkan pengetahuan tentang pertanian, penanganan hama, pemupukan, dan tata cara pembenihan yang benar. Adapun program ini diberi nama oleh penulis yaitu: Program Bina Petani (PBP). Tim penyuluhan tentunya dibawah arahan Dinas Pertanian di setiap daerah. Sumber daya manusia nya yaitu sarjana pertanian yang lulus dari universitas di masing-masing provinsi. Diberikan kewenangan kepada sarjana muda untuk melakukan ini. Setiap 1 bulan sekali, ada pertemuan dengan petani. Selain daripada itu, ada kelompok-kelompok tani yang memiliki grup di sosial media seperti grup whatsapp. Hal ini untuk memudahkan koordinasi antara ketua kelompok tani di setiap daerah dengan ketua tim penyuluhan Program Bina Petani Nasional(PBPN). Kemudian, dibuat sebuah akun instagram  dan facebook dengan nama Bina Petani Indonesia. Dimana fungsi instagram dan facebook ini untuk memberikan informasi terkait informasi harga-harga komoditas, tanya jawab masalah pertanian padi. Memang tidak semua petani menggunakan sosial media, namun dengan adanya ketua tim kelompok tani yang tanggap terhadap teknologi, maka mampu menjembatani informasi pertanian kepada petani yang belum memahami sosial media. Pemilihan sumber daya manusia yaitu usia muda yang telah lulus kuliah jurusan pertanian.
            Solusi kelima yaitu perlunya peningkatan peran Badan Usaha Logistik (Bulog) untuk menampung gabah hasil panen petani. Bulog membeli gabah dari petani dengan menetapkan harga yang sesuai. Petani untung dan pemerintah mampu menyerap gabah dari petani. Selain itu, adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang telah digagas pemerintah Indonesia saat ini, dimaksimalkan fungsinya dengan Kartu ATM dan sekaligus sebagai Kartu Tani. Petani memiliki rekening bank. Penulis menyarankan untuk menggunakan bank syariah. Dengan adanya kemudahan transaksi ini akan meningkatkan kelancaran transaksi ekonomi petani. Hal ini juga untuk memperluas alat transaksi non tunai di desa-desa agar masyarakat mengenal keberadaan bank syariah sampai di pelosok daerah.
            Solusi keenam yaitu, 34 provinsi di Indonesia memiliki akun sosial media dengan nama Bina Tani sesuai dengan nama provinsinya. Contoh Bina Tani Kaltim, Bina Tani Jatim, Bina Tani Jabar, Bina Tani Jateng, dan lain-lain. Bina Tani tidak hanya sekedar program tetapi merupakan sebuah organisasi dibawah Kementerian Pertanian dan di daerah diberikan wewenang kepada Dinas Pertanian. Fungsi organisasi Bina Tani tingkat provinsi ini ada ketua, sekretaris, bendahara dan bidang-bidang yaitu :bidang pembibitan, bidang pemupukan, bidang pengairan, bidang penanganan hama. Bidang-bidang ini di isi oleh orang-orang dari sarjana pertanian atau lulusan dari jurusan yang sesuai. Organisasi inilah yang nantinya akan menampung aspirasi dari kelompok tani di kabupaten/kota di setiap provinsi dan organisasi ini akan di dampingi oleh 1 pendamping dari Dinas Pertanian di daerahnya masing-masing.
            Solusi ketujuh yaitu, mengirim perwakilan yaitu pemuda dari organisasi Bina Tani. Bisa ketua organisasi yang berangkat ke negara yang berhasil dibidang pertanian padi yaitu ke Thailand atau Vietnam. Perwakilan ini dari 34 provinsi, sehingga ada pengetahuan yang diperoleh dari masing-masing orang dan di terapkan di daerah masing-masing. Peningkatan sumber daya manusia (SDM) ini tidak akan pernah rugi bagi Indonesia, ini akan meng-upgrade ilmu dan keahlian pemuda yang terpilih itu agar bisa memajukan pertanian di Indonesia. Perencanaan yang terorganisir dan manajemen yang baik akan memberikan hasil yang memuaskan. Tentunya, semua pihak serius dan menjunjung tinggi kredibiltas dalam menyelesaikan program pertanian.
            Solusi kedelapan yaitu kelompok tani yang terbentuk di desa diberikan pelatihan terkait penggunaan alat-alat pengolah tanah persawahan. Misalnya menggunakan traktor, selain itu pelatihan memanen padi dengan menggunakan mesin. Petani diberikan pelatihan dengan penggunaan alat-alat teknologi canggih untuk mengelola hasil panenan. Termasuk packing gabah atau packing beras. Dan juga tata cara administrasi pencatatan biaya dan total hasil panen yang diperolehnya.
            Solusi kesembilan terkait neraca perdagangan defisit yaitu dengan penguataan ekspor. Selain daripada itu, penguatan sektor pariwisata yaitu melalui Kementerian Luar Negeri untuk gencar mempromosikan pariwisata Indonesia di kancah dunia. Hal ini akan mengudang daya tarik wisatawan mancanegara agar berkunjung ke Indonesia. Otomatis, banyaknya transaksi keuangan yang mereka lakukan maka akan berpengaruh terhadap cadangan devisa Indonesia. Faktor lain untuk menambah cadangan devisa yaitu meningkatkan kerja sama bilateral ataupun multilateral dalam hubungan perdagangan, membuka pangsa pasar baru dengan negara lain maka akan akan meningkatkan volume transaksi perdagangan agar kurs rupiah tidak tergerus melemah.
            Dari uraian di atas, maka permasalahan impor beras merupakan salah satu kebijakan yang selanjutnya harus di ubah. Pola pikir (mindset) harus di ubah agar tidak tergantung impor beras untuk menyediakan stok beras nasional. Langkah-langkah konkrit harus diambil pemerintah agar Indonesia mampu menyediakan stok beras sendiri. Tidak impor lagi dari Thailand, Vietnam bahkan dari Pakistan. Tentunya, untuk mewujudkan ini diperlukan sebuah sistem yang dituangkan dalam kebijakan pemerintah. Solusi akan hal ini telah dipaparkan oleh penulis melalui solusi pertama hingga solusi kedelapan. Harapannya, Indonesia bisa melakukan ekspor beras ke negara lain, mengingat negara ini  terkenal negara agraris yang bisa melakukan banyak terkait pertanian. Bukan sebuah keniscayaan yang tidak mungkin, jika suatu saat Indonesia pun bisa memiliki stok beras melimpah dan bisa ekspor ke negara lain. Tentu hal ini salah satu cara untuk meningkatkan neraca perdagangan Indonesia. Indonesia bisa mencapai ini semua diperlukan dukungan semua pihak dan elemen masyarakat untuk mewujudkannya.



Boleh dibaca, tapi jangan plagiasi ya... :)

Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unmul

Pada awalnya berdirinya, 28 September 1962, UNMUL hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan....