Tuesday, December 26, 2017

PERAN PEREMPUAN UNTUK EKONOMI KERAKYATAN


                                                       

            Masa kini, perempuan bukan lah sosok yang lemah dan di cap sebagai makhluk yang tidak berdaya. Bukan pula sosok yang dianggap ‘budak’ di zaman yang serba modern serta tidak bisa berbuat apa-apa. Peranannya kini mulai tampak dalam setiap aspek kehidupan. Termasuk aspek pendidikan, sosial, ekonomi dan aspek-aspek lainnya. Dedikasi yang tinggi dalam segala bidang kehidupan, memberikan dampak positif untuk kemajuan berbagai aspek tersebut. Jika menilik pada zaman dahulu, dimana ruang gerak perempuan sangat dibatasi. Kita dapat membayangkan betapa susahnya perjuangan perempuan untuk mengaktualisasikan dirinya. Simbol perempuan hanya “sumur, dapur, kasur”. Istilah ini menjadi terkenal di masyarakat karena perempuan hanya ditugaskan untuk urusan sumur, dapur dan kasur.  Contohnya saja pada masa Raden Ajeng Kartini yang pernah merasakan ketidakbebasan sebagai seorang perempuan dan pada akhirnya beliau lah yang memperjuangkan emansipasi wanita pada masanya dan kisah ini dituangkan dalam bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
          Berbicara tentang peran perempuan, memang tidak ada habisnya. Menilik kemajuan saat ini, khususnya bidang ekonomi, kita dapat melihat bahwasanya perempuan Indonesia mampu berdikari dibidang Usaha Kecil Menengah (UKM). Hal ini dibuktikan banyak karya yang mampu diciptakan oleh kaum perempuan. Contohnya adalah industri Amplang yang ada di Samarinda. Makanan khas Kalimantan Timur ini menjadi salah satu primadona bagi masyarakat. Peminat terhadap produk ini pun semakin beragam dari berbagai kalangan. Contoh lainnya yaitu, produksi kain Batik yang ada di Jogjakarta atau pun daerah-daerah lain di Indonesia hingga menembus pasar Internasional apalagi ditunjang dengan diakuinya batik sebagai hak paten bagi Indonesia yang diketahui oleh dunia Internasional menjadi motivasi bagi masyarakat untuk menambah penjualan dan tingkat produksi.  Hal ini adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan untuk mendorong prospek Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia sebagai ekonomi kerakyatan.
          Sebelum membahas lebih jauh, berikut ini pengertian ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berasaskan kekeluargaan, kedaulatan rakyat, dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. (Prof.Dr. Mubiarto). Dalam hal ini, peran UKM yang akan dikelola oleh kaum perempuan dalam meningkatkan kualitas dan potensi perempuan di lingkungan masyarakat akan mewujudkan ekonomi kerakyatan yang mengutamakan kesejahteraan keluarga demi pemerataan ekonomi keluarga dan juga lebih luas lagi untuk mencapai tujuan ekonomi nasional yang lebih meningkat lagi.
          Data menurut Studi GlobeAsia/NUS menunjukkan Indonesia menduduki peringkat teratas di kawasan Asia dengan 11,6% perempuan terwakili di korporasi dan dari dari segi pertumbuhan Usaha Kecil dan Menengah, UKM di Indonesia mampu bertahan dari krisis global yang terjadi tahun 2008.     Hal ini lah yang menjadi fokus perhatian untuk perkembangan UKM yang ada di Indonesia. Memanfaatkan peran perempuan untuk peningkatan Usaha Kecil dan Menengah merupakan langkah tepat untuk meningkatkan perekonomian nasional.
          Secara riil UMKM atau sering disebut UKM (Usaha Kecil Menengah) juga sebagai sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, terbukti telah menyumbangkan sebesar Rp 1.013,5 triliun atau 56,7% dari Product Domestic BrutoIndonesia (www.depkop.go.id). Selain itu, UKM juga mampu menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu dalam mengurangi jumlah pengangguran. Perlunya kontinuitas diantara stakeholder untuk berkomitmen keras guna mencapai tujuan bersama untuk masyarakat Indonesia.
            Menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MennegPP&PA), sebagai ketua penyelenggara APEC Women and The Economy Forum (WEF) yang dihadiri 19 dari 21 negara anggota APEC mengungkapkan pihaknya mengapresiasi seluruh rekomendasi dari seluruh negara-negara anggota APEC yang bertujuan untuk merealisasikan potensi kaum perempuan sebagai penggerak ekonomi. Pernyataan ini dapat menjadi moto penggerak bagi perempuan Indonesia untuk mendedikasikan dirinya dan meningkatkan potensi diri sebagai wirausahawan dibidang ekonomi. Peran UKM ini lah yang menjadi tren centre guna memacu semangat kaum perempuan untuk menigkatkan perekonomiannya.
          Manfaat yang diperoleh bagi kaum perempuan yang meningkatkan produktifitasnya pada UKM ini adalah mampu menopang perekonomian keluarga sehingga memperoleh penghidupan yang layak. Semua itu, tidak lepas dari keberhasilan usaha yang dijalankan. Perlunya peningkatan kualitas  perempuan merupakan langkah utama yang berkaitan dengan penguatan ilmu pengetahuan yang akan diaplikasikan di masyarakat dan dapat diketahui bahwa kesejahteraan bagi kaum perempuan dan keluarga  merupakan dambaan bagi semua orang. Tentunya hal ini berkaitan dengan pendapatan dan pekerjaan serta usaha yang dilakukan.
          Untuk mencapai keinginan guna meningkatkan produktifitas perempuan Indonesia untuk Usaha Kecil Menengah pasti ada hambatan-hambatan yang menyertainya. Hambatan tersebut yaitu:
  1. Sumber Daya Manusia belum terlatih maksimal
  2. Kurangnya peran pemerintah di daerah untuk menggalakkan pemerataan UKM
  3. Akses informasi dan teknologi yang belum mencapai ke daerah pelosok di Indonesia
  4. Sumber modal
  5. Infrastruktur
  6. Kesulitan pelaku usaha untuk memasarkan Produk
  7. Tingkat persaingan para kompetitor usaha
            Permasalahan di atas adalah gambaran yang terjadi di masa kini. Tentu saja hambatan tersebut akan berpengaruh terhadap kemajuan UKM dan tidak kalah menariknya saat ini adalah budaya konsumtif yang menjadi akar dalam diri masyarakat. Hal-hal ini lah yang harus mejadi acuan untuk melakukan sebuah perubahan melalui peran  perempuan.
            Untuk mengatasi tujuh pemetaan masalah di atas, berikut ini solusinya.
Berkaitan dengan sumber daya manusia yang belum terlatih maksimal, hal ini dapat ditanggulangi dengan memberikan pelatihan-pelatihan di setiap daerah-daerah terutama pelatihan keterampilan bagi perempuan. Pelatihan keterampilan itu contohnya, keterampilan menjahit, memasak, penggunaan alat teknologi (komputer) dan peran perempuan dalam hal ini adalah mengajak anggota keluarga, tetangga ataupun masyarakat yang ada disekitarnya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan ini. Hal ini dapat dilakukan disetiap kelurahan yang ada di desa-desa. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk pemerataan dan menumbuhkan jiwa wirausaha untuk kaum perempuan sehingga nantinya dapat membantu ekonomi keluarga dan juga adanya pemerataan ekonomi yang menyeluruh disetiap desa di kelurahan tempat tinggalnya.
            Kurangnya pemerintah dalam menggalakkan pemerataan UKM. Hal ini dapat diselesaikan dengan memberikan usulan kepada pemerintah daerah untuk mendukung baik dukungan secara moril maupun materil serta adanya peran pemerintah untuk mempromosikan hasil  atau produk dari UKM sebagai warisan daerah yang patut untuk dilestarikan dan dipasarkan. Adanya kerja sama dalam hal ini melalui peran kepemudaan atau karang taruna sebagai wadah aspirasi untuk kaum muda, terutama kaum perempuan.
            Akses informasi dan teknologi yang belum merata di daerah pelosok di Indonesia. Cara yang dapat dilakukan adalah jika daerah tersebut tidak ada listrik, maka dapat analisis untuk alat teknologi yang dapat digunakan. Jika terdapat aliran sungai maka daerah tersebut berpotensi untuk menggunakan generator sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ataupun menggunakan panel surya. Kita ketahui bahwa listrik merupakan hal utama bagi masyarakat. Dengan adanya hal ini maka masyarakat dapat menambah informasi, baik dari radio, televisi, handphone dan akses internet. Serta perlunya peran daerah untuk kepemudaan di daerah agar mendapatkan pelatihan dikota-kota sehingga ketika pulang ke desanya, mereka dapat menerapkan ilmu pengetahuannya. Lebih ringkas lagi, adanya peran perempuan untuk mendapatkan pelatihan keterampilan yang berpotensi untuk menumbuhkembangkan UKM di daerahnya.
            Sumber modal merupakan masalah yang dihadapi oleh pelaku usaha. Termasuk UKM. Kesulitan dalam memperoleh modal sehingga mengakibatkan UKM tersendat dalam usahanya. Dalam hal ini perlunya peran pemerintah ataupun pihak perbankan untuk memberikan bantuan modal kepada pelaku UKM dengan jangka pengembalian sesuai dengan kesepakatan. Di mana peran perempuan adalah mengelola dan memberdayakan modal yang diperoleh secara berkelompok. Misalnya, kelompok UKM tersebut terdiri atas sepuluh orang. Di mana pembagian tugasnya meliputi, bagian manajemen, personalia, bendahara keuangan, sekretaris, bagian pemasaran, bagian informasi akuntansi, bagian tenaga kerja yang akan mengelola proses produksi. Hal ini dilakukan untuk mensinergiskan tuga    s-tugas dan masing-masing yang terpilih harus bertanggung jawab.
            Masalah infrasrtuktur tidak kalah penting untuk dilakukan perbaikan yang menyeluruh agar masyarakat yang ingin mendistribusikan produknya tidak terkendala. Perlunya peran investor dan kerjasama dengan pemerintah untuk membangun berbagai infrastruktur demi kelancaran roda perekonomian masyarakat. Perbaikan ataupun pembangunan infrastruktur itu meliputi perbaikan jalan lintas daerah, lintas provinsi, perbaikan berbagai pelabuhan, bandara, dan jalan-jalan desa. Dengan berbagai fasilitas yang sudah tersedia maka masyarakat akan semakin meningkatkan perannya dalam perekonomian.
            Kesulitan pelaku UKM dalam memasarkan produk dapat ditanggulangi dengan penyedian akses informasi yang dikelola oleh kaum perempuan. Di mana akses informasi ini akan memuat infromasi-informasi tentang perusahaan atau pengusaha yang mau menerima hasil UKM dan juga adanya peran pemerintah yang mengawasi perkembangan UKM disetiap daerah. Dalam hal penciptaan informasi UKM oleh kaum perempuan akan diberi nama dengan “INFOKOM UKM”. (Informasi dan Komunikasi Usaha Kecil dan Menengah) yang akan dikelola oleh kaum perempuan.
            Pada poin ke-7, dalam menghadapi persaingan para kompetitor, pelaku UKM harus mengetahui peluang usaha dan juga penciptaan produk yang inovatif dan kreatif serta dengan desain yang menarik serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat karena pada dasarnya masyarakat akan tertarik dengan produk yang berkualitas. Pelaku usaha UKM pun harus memperhatikan pelayanan prima kepada konsumen. Di mana peran perempuan untuk hal ini adalah memberikan pelatihan kepada kawan-kawannya untuk mendapatkan pengetahuan dalam pelayanan prima. Pelatihan ini akan dilakukan sebulan sekali disetiap kelurahan atau desa melalui peran perempuan yang tergabung dalam UKM.
            Peranan perempuan dalam ekonomi kerakyatan dengan meningkatkan peran Usaha Kecil dan Menengah akan meningkatkan kondisi perekonomian. Dampak positifnya tidak hanya untuk kesejahtraan keluarga tetapi UKM juga akan menyumbang Gross Domestic Product (GDP) nasional. 


(Tulisan ini saya tulis 29 Desember 2013 Saat menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman)

No comments:

Post a Comment

Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unmul

Pada awalnya berdirinya, 28 September 1962, UNMUL hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan....