Wednesday, July 22, 2015

Si Bonteng dan Si Boncel


         Si Bonteng dan Si Boncel, laki-laki kembar tetapi sangat tidak mirip wajahnya. Mereka dilahirkan disebuah rumah sakit ternama di Samarinda. Saat ibu nya mengandung mereka, sering makan singkong setiap hari. Bukannya tidak ada nasi tetapi ibu nya memang suka makan singkong. Singkong yang dimasak bukan di rebus tetapi dibakar di bara api yang panas. Ada kalanya di goreng dengan minyak jerantah supaya nikmat. Ayah mereka kerja di kantor mewah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Setiap hari menggunakan sepeda ontel yang sudah menemaninya selama dua puluh lima tahun. Setiap minggu sepedanya selalu dicuci. Harta benda keluarga ini banyak sekali, namun mereka menggunakan hal yang biasa-biasa saja. Handphone yang bersenter selalu menemaninya, mobil digarasi ada lima, rumah yang dimiliki sudah lima pula, tanah seluas dua puluh hektar sudah dimilikinya. Hidup kaya raya namun masih tradisional. Memegang prinsip teguh, Hidup Sederhana Mati Masuk Surga, Harta Banyak Untuk Sedekah. 
        Kini usia Si Bonteng dan Si Boncel sudah remaja dan bersekolah di SMA Tunas Mesri Borneo.  Remaja ini tampak sekali perbedaannya. Setiap orang yang melihatnya pasti tertawa dan mengatakan Teng-Teng, Cel-Cel. jadi untuk memanggil kedua remaja itu adalah TengCel. Mereka kini duduk di kelas tiga SMA. Setiap hari membawa bekal makanan dari rumah serta air minum di botol. Setiap hari pun bangun pagi, mengisi air di bak mandi, menyapu, mengepel, cuci piring dan membantu menyiapkan sarapan. Ibunya yang kini sudah berusia 38 tahun sudah tak kuat lagi melakukan pekerjaan berat, sedangkan ayahnya masih berumur 40 tahun masih bekerja di Instansi pemerintah sebagai pegawai juru ketik berkecapatan tinggi. Itu lah keahlian ayahnya tiada yang menandingi. 
       Suatu saat di TengCel ditembak oleh dua orang wanita cantik saat keduanya mau pergi ke mall Robinsin. Wanita itu menyatakan cinta kepada dua remaja itu. Sangking cantiknya, mata susah berpaling. Wanita ini menggunakan rok mini, lipstik warna pink, dengan baju yang kurang kain, rambut tergerai lurus habis rebonding, wajah bersinar-sinar terkena sinar lampu warung gorengan di pinggir jalan. Bonteng dan Boncel heran mengapa wanita ini menggebu-gebu menyatakan cinta, kenal saja tidak tetapi menggoda-goda. Tapi tak bisa dipungkiri kecantikan mereka aduhaiii. Aduhaiii karna kena sinar lampu warung gorengan mbah Sito. Wanita itu berkata pada Bonteng dan Boncel, 'Mas, saya sudah sering lihat sering jalan didekat mall ini, boleh tahu gak sih nama nya, sapa wanita itu. "Saya Bonteng mbak, dan ini kembaran saya Boncel". "Nama yang unik mas. Jawab wanita itu. kini si Boncel yang giliran bertanya, kalau mbak namanya siapa?". "Oh...Saya Pinem mas, dan ini saudara kembar saya juga namanya Binem." Wah kembar tapi beda banget yah mbak, sanggahku dengan terkekeh. "Saya selalu memperhatikan mas, dan saya jatuh cinta pada pandangan ke lima. Loh..kok pada pandangan ke lima mbak? tanya Bonteng heran. "Iyah mas pandangan ke lima, soalnya yang sudah lewat sini udah lima orang sama mas Bonteng". "Ha...Ha..Ha... mbak Pinem bisa aja deh ngelawaknya. Sahut Bonteng sambil tertawa terbahak-bahak. "Beneran kok mas, saya suka banget sama mas sudah lama, Pinem tersenyum tersipu-sipu. Nanti saya jawab yah mbak. Kini giliran Binem yang menyatakan perasaan pada Boncel. "Mas Boncel, saya juga suka banget sama mas". "Suka apanya mba Binem? tanya Boncel. "Suka sama gaya nya mas yang nyentrik pakai blankon." Memang kalau saya pakai blankon kenapa mbak? Tanya Boncel lagi dengan mengernyitkan dahi. "Mas terlihat jawa tulen mas, katrok gitu, kalau orang bilang wong ndeso. ha..ha... Binem tertawa keras sampai mbah Sito penjual gorengan terkejut dan gorengannya jatuh ke tanah. " Mbah Sito marah-marah dan menghampiri Binem sambil berkata" kamu mengagetkan saya sampai gorengan saya jatuh, apa mau mu Binem bikin saya kaget gini? Tanya mba Sito dengan logat jawa nya. "Tadi gak sengaja mbah, saya tertawa keras soalnya si Boncel lucu sih". Jawab Binem. "Sudah-sudah jangan godain remaja bau kencur ini Pinem dan Binem, mereka ini masih sekolah. Cari mangsa lain saja. "Loh kok gitu mbah, memang mereka berdua ini siapa mbah? tanya Bonteng. Mbah ini menjawab, loh pada gak tahu ya, mereka kalau malam jadi Pinem sama Binem. Kalau siang jadi Parto sama Binron. "hah...??? Jadi mba semua ini, banci??  tanya Boncel dan Bonteng bersamaan. "Ya kami banci, kamu mau apa?? Jawab Pinem keras dan suara lelakinya keluar. Seketika itu Bonteng dan Boncel lari terbirit-birit karena dikejar oleh wanita cantik kena sinar lampu warung gorengan mbah Sito.
    

#Pertualangan Bonteng dan Boncel Masih Berlanjut#.
Witer by: Kuncari Isnawati

No comments:

Post a Comment

Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unmul

Pada awalnya berdirinya, 28 September 1962, UNMUL hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan....