Wednesday, September 20, 2017

MATERI AKUNTANSI
                        
Definisi Laba Menurut Pakar Dalam Bidang Akuntansi

Secara umum para pakar dalam bidang akuntansi mendefiniskan pengertian laba dengan berbagai macam deskripsi seperti:
  Commite On Terminology (Sofyan Syafri H.,2004) dalam Aliyal Azmi (2007:12) mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
  Stice, Stice, Skousen (2009:240) laba adalah pengambilan atas investasi kepada pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya.
  Soemarso SR (2004 : 227) angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah Laba Bersih (net income). Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila perusahaan menderita rugi, angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah rugi bersih (net loss).
  Menurut Suwardjono (2008 : 464) laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat dalam kegiatan produksi dan penyerahan barang / jasa).
  Sedangkan menurut Smith Skousen (1989:119) Laba Bersih merupakan perbedaan antara jumlah pendapatan yang diperoleh suatu satuan usahan selama periode tertentu dan jumlah biaya yang dapat diaplikasikan kepada pendapat.
  Menurut Baridwan (1992: 55) Laba adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempunyai badan usaha selama satu periode, kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi pemilik.
  IAI tidak menerjemahkan income dengan istilah laba, tetapi dengan istilah penghasilan. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, (IAI,1994) mengartikan income (penghasilan) yakni Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi penanam modal. (paragrap. 70). Selanjutnya dalam paragrap 74 disebutkan bahwa, definisi penghasilan baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gains).
  FASB dalam SFAC No. 3 dan 6 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan laba komprehensif adalah total perubahan aktiva bersih (ekuitas) perusahaan selama satu periode, yang berasal dari semua transaksi dan kegiatan lain dari sumber selain sumber yang berasal dari pemilik. Atau dengan kata lain, laba komprehensif terdiri atas seluruh perubahan aktiva bersih yang berasal dari transaksi operasi. FASB menjelaskan bahwa alasan utama digunakannya istilah laba komprehensif adalah untuk membedakan laba komprehensif dengan laba periode.
Tidak adanya persamaan pendapat untuk mendefinisikan laba secara tepat disebabkan oleh luasnya penggunaan konsep laba. Para pemakai laporan keuangan mempunyai konsep laba sendiri yang dianggap paling cocok untuk pengambilan keputusan mereka. Fisher (1912) dan Bedford (1965) meyatakan bahwa pada dasarnya ada tiga konsep laba yang secara umum dibicarakan dan digunakan dalam bidang ekonomi. Konsep laba tersebut adalah:
  1. Psychic income, yang menunjukkan konsumsi barang/jasa yang dapat memenuhi kepuasan dan keinginan individu.
  2. Real income, yang menunjukkan kenaikan dalam kemakmuran ekonomi yang ditunjukkan oleh kenaikan cost of living.
  3. Money income, yang menunjukkan kenaikan nilai moneter sumber-sumber ekonomi yang digunakan untuk konsumsi sesuai dengan biaya hidup cost of living.
Ketiga konsep tersebut semuanya penting, meskipun pengukuran terhadap Pschic Income sulit untuk dilakukan. Hal ini dapat disebabkan Pschic Income adalah konsep psikologi yang tidak dapat diukur secara langsung, Namun dapat ditaksir dengan menggunakan real income. Keinginan manusia tersebut hanya dapat dipenuhi pada berbagai tingkatan, sebagaimana seseorang memperoleh Real Income. Dipihak lain, Money Income meskipun mudah diukur, tetapi tidak mempertimbangkan perubahan nilai suatu unit moneter. Atas dasar alasan ini, para ekonom memusatkan perhatiannya pada penentuan real income. Fisher (1912) juga berpendapat bahwa real income adalah konsep income yang praktis bagi akuntan.
Teori Laba    
Dalam perusahaan koperasi, laba disebut sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU). Menurut teori laba, tingkat keuntungan  pada setiap perusahaan biasanya berbeda pada setiap jenis setiap industri, baik perusahaan yang bergerak dibidang tekstil, baja, farmasi, komputer, alat perkantoran, dan lain – lain. Terdapat beberapa teori yang menerangkan perbedaan ini sebagai berikut :
a.       Teori Laba Menanggung Risiko (Risk-Bearing Theory of Profit).
Menurut Teori ini, keuntungan ekonomi diatas normal akan diperoleh perusahaan dengan resiko diatas rata-rata.
b.      Teori Laba Friksional (Frictional Theory of Profit).
Teori ini menekankan bahwa keuntungan meningkat sebagai suatu hasil dari friksi keseimbangan jangka panjang (long run equilibrium).
c.       Teori Laba Monopoli (Monopoli Theory of Profit).
  • Teori ini mengatakan bahwa beberapa perusahaan dengan kekuatan monopoli dapat membatasi output dan menekankan harga yang lebih tinggi daripada bila perusahaan beroperasi dalam kondisi persaingan sempurna. Kekuatan monopoli ini dapat diperoleh melalui :
    • Penguasaan penuh atas supply bahan baku tertentu
    • Skala ekonomi
    • Kepemilikan hak paten
    • Pembatasan dari pemerintah
d.      Teori Laba Inovasi (Innovation Theory of Profit).
Dalam teori inovasi, laba yang diatas normal dapat timbul sebagai hasil inovasi yang berhasil. Walau demikian, perusahaan yang telah berhasil dalam inovasi tidaklah kebal dari serangan persaingan dari perusahaan-perusahaan imitator. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan inovasi terus-menerus.
e.       Teori Laba Efisiensi Manajerial (Manajerial Efficiency Theory of Profit).
Teori ini menekankan bahwa perusahaan yang dikelola secara efisien akan memperoleh laba di atas rata-rata laba normal.
Pengukuran dan Pengakuan Laba
Pengukuran terhadap laba merupakan penentuan jumlah rupiah laba yang dicatat dan disajikan dalam laporan keuangan. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa, laba (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal. (paragrap 92).
Secara konseptual ada 3 (tiga) pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur laba. Pengukuran tersebut adalah pendekatan transaksi, pendekatan kegiatan dan pendekatan mempertahankan kapital/kemakmuran (capital maintenance).
1.      Pendekatan Transaksi
Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva/hutang (laba) terjadi hanya karena adanya transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi eksternal timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva/hutang dengan pihak luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau konversi aktiva dalam perusahaan. Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu:
·         Komponen laba dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya: atas dasar produk/konsumen
·         Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi
·         Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang ada pada akhir periode
·         Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi eksternal untuk berbagai tujuan
·         Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang lainnya.

2.      Pendekatan Kegiatan
Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksanakan. Jadi laba bisa timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan pengumpulan kas. Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan dari pendekatan transaksi. Hal ini disebabkan pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai dasar pengukuran. Kebaikan pendekatan kegiatan adalah:
·         Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenis evaluasi dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan penjualan surat berharga yang ditujukan pada usaha memperoleh capital gain.
·         Efisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab manajemen.
·         Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.
3.      Pendekatan Mempertahankan Kapital/Kemakmuran (Capital Maintenance)
Atas dasar pendekatan ini, laba diukur dan diakui setelah kapital awal dapat dipertahankan. Sebelum membahas pengukuran laba atas dasar konsep mempertahankan kemakmuran/kapital.
Dalam konsep mempertahankan kemakmuran, kapital disini dimaksudkan sebagai kepaitgal dalam arti kekayaan bersih dalam artian luas dan dalam berbagai bentuknya. Jadi kapital diartikan sebagai sekelompok kekayaan tanpa memeperhatikan siapa yang memiliki kekayaan tersebut. Kam (1990) mendefiniskan laba (income) merupakan perubahan dalam kapital perusahaan diantara dua titik waktu yang berbeda (awal dan akhir), diluar perubahan karena investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik, dimana kapital dinyatakan dalam bentuk nilai (value) dan didasarkan pada skala pengukuran tertentu (Paragrap 194).
Dengan demikian laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada akhir periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode. [Laba = total aktiva neto (akhir periode) – kapital yang diinvestasikan (awal periode)]. Konsep pengukuran laba ini disebut dengan konsep mempertahankan kapital/kemakmuran (wealth or capital maintenance concept).
Kapital yang digunakan dalam konsep ini adalah kapital neto (net worth) atau aktiva neto. Kapital dinyatakan dalam bentuk nilai ekonomi pada skala pengukuran tertentu. Pengukuran terhadap kapital sangat dipengaruhi oleh nilai (unit pengukur), jenis kapital dan skala pengukuran. Perbedaan terhadap ketiga faktor tersebut akan mengakibatkan perbedaan besarnya laba yang diperoleh.
Hubungan Pendapatan dengan Laba
Laba diperoleh dari pendapatan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan operasional perusahaan. Pendapatan yang besar dari kegiatan utama menggambarkan keoptimalan pihak manajemen dalam menjalankan perusahaan dengan baik. Selain itu pendapatan yang besar mencerminkan perolehan laba yang besar. Secara matematis apabila pendapatan lebih besar dari biaya akan diperoleh laba, sebaliknya apabila pendapatan lebih kecil dari biaya akan diperoleh kerugian dan apabila pendapatan sama besarnya dengan biaya akan mengabikatkan tidak mendapatkan keuntungan (laba) maupun kerugian, ini yang disebut titik impas (break event point).Pada kenyataannya tidak seiamanya besarnya pendapatan yang diperoleh akan memperlihatkan besarnya perolehan laba. Karena pada dasarnya untuk mendapatkan laba, pendapatan yang diperoleh hams dikurangkan terlebih dahulu dengan biaya-biaya.





Tuesday, September 19, 2017

   TUGAS AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN II
Disusun Oleh : Kuncari Isnawati (NIM: 1201035079)
Kelas              : 6 B, Akuntansi (Reguler)

1.      Proprietary Theory, sepenuhnya menguasai assetnya dan sepenuhnya betanggungjawab ata utang perusahaan. Misalnya PT: (1). Aset sepenuhnya dikuasai pemilik. (2). Utang tanggunjawab sepenuhnya pemilik. (3). Revenue akan menambah kekayaan pemilik.
Proprietary Theory disebut juga teori pemilikan. Menurut teori pemilikan pendapatan meningkatkan pemilikannya dan biaya menurunkannya. Konsep laba komprehensif didasarkan pada teori pemilikan karena laba bersih mencakup semua pos yang mempengaruhi pemilikan selama masa periode kecuali penarikan-penarikan deviden dan transaksi-transaksi modal.
Proprietary theory ( teori perusahaan induk). Teori ini adalah yang paling pertama digunakan dalam sejarah teori penyusunan laporan keuangan konsolidasi. Teori ini didasarkan oleh satu asumsi bahwa laporan keuangan konsoidasi adalah perluasan dari laporan keuangan perusahaan induk oleh karenanya harus dibuat dari sudut pandang pemegang saham perusahaan induk. Artinya laporan keuangan konsolidasi dibuat semata-mata hanya untuk kepentingan stockholder perusahaan induk, dan laba bersih pada laporan keuangan konsolidasi merupakan ukuran laba bagi perusahaan induk saja. Teori ini menjadi tidak applicable ketika pemilikan perusahaan induk pada perusahaan investee tidak mencapai 100%.  Timbul ketidakonsistenan atas perlakuan akuntansinya. Misalnya :
·         Kepemilikan minoritas merupakan kewajiban dari sudut pandang stockholder perusahaan induk (kepemilikan minoritas dimasukkan ke dalam kelompok kewajiban). Kenyataannya kewajiban yang dimaksudkan di sini bukan kewajiban yang berdasarkan pada konsep kewajiban yang lazim.
·         Laba kepemilikan minoritas dianggap sebagai beban dari sudut pandang stockholder perusahaan induk, beban yang dimaksudkan tidak memenuhi kriteria  beban lazim.
Dalam proprietary theory menyatakan bahwa akuntansi terjadi karena bentukan dari persamaan dasar (Accounting issues in Islamic bangking, London, 1994:7) sebagai berikut :
Aktiva-kewajiban : Modal. Artinya modal adalah sama dengan aktiva dikurangi dengan kewajiban. Dalam hal ini, pemilik adalah pusat perhatian. Aktiva dianggap dimiliki oleh pemilik dan kewajiban/utang adalah kewajiban pemilik. Tanpa memandang mengenai perlakuan hutang, pemilikan dipandang sebagai nilai bersih kesatuan usaha kepada pemilik. Pada saat perusahaan didirikan, nilai tersebut akan sama  dengan investasi pemilik. Selama hidup perusahaan akan terus sama dengan investasi awal dan tambahan investasi serta akumulasi laba bersih diatas jumlah yang diambil oleh pemilik. Inilah yang kemudian disebut dengan konsep kekayaan. Teori ini berpendapat bahwa pendapatan adalah kenaikan atas hak pemilik. Konsep laba komprehensif didasarkan pada proprietary theory karena laba bersih berisi semua unsure yang mempengaruhi pemilikan selama satu periode terkecuali pembagian deviden  dan transaksi modal. Teori ini menekankan pada hakikat perubahan terhadap kepemilikan dan idasifikasinya dalam neraca. Teori ini lebih tepat diterapkan  di dalam perusahaan  dengan pemilikan tunggal ataupun perusahaan persekutuan. Karena adanya hubungan personal antara manajemen dengan pemilik. Teori ini merupakan teori akuntansi yang paling kuno, dan banyak konsep teori akuntansi yang dikembangkan oleh teori ini (Wiley  & Sons, 1986: 304)
Teori Proprietary sangat cocok diterapkan untuk organisasi perusahaan perseorangan dan firma  karena pemilik sekaligus manajemen perusahaan . Hal ini disebabkan laba bersih atau net income ditambahkan setiap periode ke rekening modal pemilik walaupun perhitungan laba tidak mengukur kenaikan bersih kekayaan (wealth).
Teori Proprietary banyak mempengaruhi  praktek-praktek akuntansi maupun terminologi akuntansi perusahaan perseroan terbatas, Misalnya laba bersih per Teori ekuitas adalah teori yang menjelaskan sudut pandang yang digunakan dalam akuntansi berkaitan dengan penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Dengan kata lain, penyusunan dan penyajian laporan keuangan sangat tergantung pada sudut pandang yang digunakan yaitu: siapa yang dianggap paling berkepentingan terhadap laporan keuangan.
Sudut padang yang berbeda dapat menghasilkan format pelaporan yang berbeda pula. Teori Proprietary, teori ini memusatkan perhatiannya kepada pemilik. Jadi dalam akuntansi:
·                  Tujuan perusahaan
·                  Jenis modal
·                  Makna rekening dll.
Persamaan akuntansi yang digunakan  aktiva - hutang = modal Aktiva merupakan kekayaan pemilik, sementara hutang merupakan kewajiban pemilik. Kepemilikan dianggap sebagai nilai bersih dari perusahan   untuk pemilik, jika perusahaan baru dimulai sama dengan investasi pemilik. Pemakai sudusahaan sering dianggap sebagai laba bersih bagi pemilik. Pengertian laba bersih bagi pemilik dapat dinterpretasikan sebagai sisa laba bersih yang dialokasikan kepada pemilik dan book value pershare dapat dinterprestasikan sebagai book equity pershare menurut pendekatan entitas
2.      Parent Company Theory menjelaskn bahwa  laporan keuangan konsolidasi adalah perluasan  dari laporan keuangan induk perusahaan, dibuat untuk memenuhi kebutuhan para pemegang saham induk  perusahaan. Sedangkan para pemegang saham perusahaan anak tidak begitu penting secara signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasi. Oleh karena itu, teori ini menghendaki akuisisi saham beredar anak perusahaan adalah 100% atau tidak kurang dari 90%.
3.      Entity Theory. Teori ini menganggap bahwa perusahaan memiliki eksistensi yang terpisah . Pemisahan ini terjadi pada kepentingan pemilik dan pemegang ekuitas lain. Pendiri dan pemilik perusahaan tidak perlu diidentifikasikan  dengan diidentifikasikan dengan eksistensi perusahaan. Teori ini didasarkan pada (Accounting Issues In Islamic Banking, 1994:7) . Persamaan sebagai berikut  Aktiva = Ekuitas (modal). Ekuitas pada dasarnya adalah kewajiban ditambah  dengan hak pemegang saham. Elemen yang ada pada sisi kanan.
Perbedaan utama antara utang dan hak pemegang saham terkait dengan penilaian atas hak kreditor yang dapat ditentukan secara terpisah bila perusahaan bubar, sedangkan hak para pemegang saham diukur dengan nilai aktiva mula-mula yang ditanamkan  ditambah dengan laba yang diinvestasikan kembali dan revaluasi yang terjadi sesudahnya. Namun demikian, hak sebagai pemegang pemilikan dan bukan sebagai pemilik atas aktiva tertentu.
Teori ini memandang utang adalah kewajiban khusus dari perusahaan  dan aktiva mencerminkan hak perusahaan untuk menerima barang, jasa atau manfaatnya yang lain. Penilaian kembali aktiva berarti cerminan pengukuran manfaat yang akan diterima perusahaan. Laba bersih perusahaan umumnya dinyatakan sebagai perubahan bersih para pemegang ekuitas, tidak termasuk perubahan yang timbul dari pengumuman dividen dalam transaksi modal Kekayaan perusahaan terpisah dengan kekayaan pemilik perusahaan. Utang perusahaan terpisah utang pemilik perusahaan. Keuntungan / laba tidak langsung diklaim tambah kekayaan pemilik tapi pembagian laba  atas deviden melalui RUPS.
Teori entitas muncul untuk mengatasi kelemahan yang melekat pada teori proprietary. Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan kegiatan usaha menyebabkan :
1)      Perusahaan menjadi unit usaha yang berdiri sendiri terpisah dari identitas pemilik.
2)      Terdapat pemisahan antara kepentingan pribadi pemilik dengan   kepentingan perusahaan.
3)      Transaksi /kejadian yang dicatat dan dipertanggungjawabkan adalah transaksi yang melibatkan perusahaan.
4)      Perusahaan dianggap bertindak atas nama dan kepentingannya sendiri terpisah dari pemilik.
                                         Teori entitas didasarkan persamaan akuntansi
                                          Aktiva = Hutang + Modal
                                              atau
                                         Aktiva = Modal (Hutang + Modal Pemilik)  
Teori entitas memiliki dua versi yaitu:
1. Versi tradisional:
1)      Perusahaan beroperasi untuk pemegang ekuitas (ekuity holders) yaitu pihak yang memberi dana bagi perusahaan.
2)      Perusahaan harus melaporkan status investasi dan konsekwensi investasi yang dilakukan  pemilik.
2. Versi baru:
1)      Pandangan inii menyatakan bahwa perusahaan beroperasi atas namanya sendiri dan    berkepentingan terhadap kelangsungan hidunya sendiri .
2)      Penyjian lap.keuangan kepd. Pemegang  ekuitas dimaksudkan untuk memenui syarat legal
3)      Menjaga hubungan baik dengan pemegang ekuitas dalam kaitannya dengan kebutuhan dana yang diperlukan dimsa mendatang.
4)       Ekuitas menunjukkan hak/klaim pemegang ekuitas terhadap aktiva suatu unit suatu usaha.
Berdasarkan teori entitas neraca disajikan mengandung makna :
1.       Aktiva perusahaan menyajikan informasi langsung mengenai nilai unit usaha.
2.       Ekuitas menunjukkan laporan tidak langsung terhadap jumlah nilai yang sama.
3.        Aktiva adalah milik perusahaan.
4.        hutang merupakan kewajiban perusahaan bukan kewajiban pemilik
5.       Aktiva nonmoneter lebih relevan bila diukur  dengan cost historis karena nilai total aktiva sama dengan jumlah pasivanya.
Makna Laba :
Dalam pendekatan entitas , laporan rugi laba lebih relevan dibandingkan neraca, alasannya:
1.       Pemegang ekuitas lebih tertarik pada laba yang merupakan hasil dari investasi mereka.
2.        Perusahaan didirikan dengan maksud mencari laba.
3.        Laba merupakan perubahan dalam aktiva bersih  perusahaan.
4.        Pendapatan adalah aliran masuk aktiva karena transaksi yang dilakukan perusahaan.
5.       Biaya adalah cost aktiva /jasa yang digunakan perusahaan dalam rangka menghasilkan pendapatan.
Laba Ditahan:
1.       Menurut pandangan tradisional:
1)      Laba dicatat dan ditampung dalam laba ditahan.
2)      Bunga pinjaman adalah distribusi laba ditahan atas pemakaian pinjaman modal bukan   biaya bagi kreditor.
3)      Dividen merupakan distribusi laba ditahan bagi pemilik saham.
4)       Pajak penghasilan merupakan distribusi laba ditahan.

2.       Pandangan Baru:
1)      Kreditor dan pemegang saham dianggap sebagai pihak luar.
2)      Bunga pinjaman, dividen dan pajak penghasilan dianggap sebagai biaya perusahaan karena menurunkan jumlah ekuitas unit usaha tersebut.





No
Teori
Ciri Utama
Persamaan
Penerapan
Perwujudan
1






2
Prorietary





Entity Theory

Pemilik merupakan pusat perhatian






Ada pemisahan antara  eksistensi perusahaan dan masalah2 serta kepentingan pribadi pemiliknya

Aset – Liabilitie = Proprietary
A – L = P





Aset = Liabilities + Stockholders equity

Pada perusahaan perorangan atau beberapa orang dimana pemiliknya sangat menonjol




Pada PT. terbuka  (go publik) dan persekutuan ahli (profesional partnership) yang besar serta berumur panjang.

Revenue yg dihasilkan perusahaan langsung menambah kekayaan pemilik, dan sebaliknya, Expenses langsung mengurangi kekayaan pemilik

Revenue dan Expenses tidak langsung menambah dan mengurangi kekayaan pemilik.






GNNT Program Bank Indonesia
Ditulis Oleh: Kuncari Isnawati

Samarinda-Rabu (04/05). Pertumbuhan ekonomi semakian berkembang seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat.Hal ini juga diwujudkan dengan transaksi ekonomi yang sering terjadi di masyarakat dengan menggunakan teknologi modern. Teknologi modern yang berkembang saat ini yaitu penggunaan uang non-tunai yang merupakan program Bank  Indonesia. Program ini disebut Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT).
            GNNT menjadi sebuah inovasi untuk mengurangi penggunaan uang tunai di masyarakat.Tak dapat dipungkiri, masyarakat masih banyak yang menggunakan uang tunai dalam setiap pembayaran.Contoh yang sering banyak dilakukan di pasar tradisional.Hal ini menjadi tidak efisien, tidak praktis dan dapat menimbulkan tindak kriminal karena pelaku pemalsuan uang marak terjadi di masyarakat.Oleh sebab itu, hal utama untuk menyukseskan program GNNT adalah mengubah pola pikir (mindset) di masyarakat agar mengurangi penggunaan uang tunai dalam setiap transaksi ekonomi dan menggantinya dengan menggunakan uang non-tunai.
Adanya peralihan dari menggunakan uang tunai menjadi uang non-tunai menjadi solusi yang menguntungkan bagi masyarakat karena dapat bertransaksi dengan efisien, aman, mudah dan cepat.Sistem pembayaran yang semakin lancar akan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk bertransaksi dan mendorong aktivitas perekonomian sehingga terciptanya pertumbuhan ekonomi yang kondusif  serta terciptanya Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) yang baik. Selain itu, melihat kurangnya masyarakat yang terlibat dalam pelaku pengguna jasa perbankan juga menjadi tujuan pemerintah untuk terus menyosialisasikan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Indonesia.
 Penggunaan uang non-tunai ini dapat berbentuk based card dan juga kartu elektronik (electronic card) yang dapat digunakan masyarakat dalam melakukan transaksi ekonomi. Sistem pembayaran ini berkembang menjadi electronic payment system.Sistem ini menggunakan jaringan internet untuk dapat beroperasi.
Bank Umum yang telah mengeluarkan uang elektronik yaitu BRI, BNI dan Mandiri. Uang elektronik dapat diisi saldo minimal Rp.20.000,- dan maksimal Rp. 1.000.000,-. Kartu ini dapat digunakan untuk berbelanja di toko yang telah bekerja sama dengan pihak bank dan telah menerapkan penggunaan uang elektronik. Adapun contoh cara pengisian saldo pada uang elektronik pada Mandiri e-money yaitu:
1.      Mandiri ATM bertanda e-money
2.      Menggunakan kartu mandiri debit
3.      Masukkan PIN mandiri debit
4.      Pilih menu Uang Elektronik
5.      Pilih menu mandiri e-money
6.      Pilih menu isi ulang
7.      Pilih nominal isi ulang yang teredia pada tombol atau jumlah lainnya
8.      Konfirmasi jumlah nominal isi ulang. Jika sudah selesai tekan “Ya”
9.      Tempelkan kartu mandiri e-money pada reader bertanda
10.  Transaksi berhasil, kertas struk keluar dan saldo kartu mandiri e-money bertambah
11.  Simpan struk sebagai bukti transaksi
Itulah salah satu cara untuk mengisi kartu elektronik agar memudahkan masyarakat dalam menggunakan kartu elektronik. Pengetahuan untuk menggunakan uang tunai/uang elektronik harus disosialisasikan dengan gencar agar masyarakat semakin mengenal dan mau menggunakan uang non-tunai dengan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK). APMK ini seperti kartu debet, kartu kredit dan uang elektronik yang diterbitkan oleh bank umum.

Demikian lah salah satu program Bank Indonesia yang disebut dengan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang memilik tujuan untuk menciptakan sistem pembayaran yang efektif dan efisien serta menjalankan salah satu pilar utama untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Terciptanya kelancaran pembayaran ini akan memudahkan masyarakat untuk bertransaksi melalui perbankan.

Monday, September 18, 2017

4 Solusi Anak Tak Mau Belajar
Writer By: Kuncari Isnawati


Pasti pernahkan menjumpai anak yang tak mau di ajak belajar? Misalnya ketika disuruh mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah. Anak menjawab “Nanti ya mama, masih mau nonton tv dulu”. Ada pula yang asik bermain dan lupa mengerjakan PR dari sekolah. Saat PR tersebut dikumpulkan ke gurunya, alasannya ketinggalan. Hal lainnya, anak sering menolak kalau disuruh membaca. Maunya kalau ada PR langsung minta jawabannya. Wah.. ini yang harus jadi perhatian bagi orang tua. Peran ayah dan ibu sangat penting dalam mengawasi belajar anak. Anak akan merasa memiliki tanggung jawab jika orang tua mengajarkan sikap disiplin dalam mengerjakan tugas dari sekolah.
Adapun cara untuk mengatasi anak yang tak mau belajar adalah:
1.       Setiap pulang dari sekolah atau pada malam hari, ayah dan ibu menanyakan kepada anaknya apakah ada PR dari sekolah atau tidak. Jika ada, maka bimbingan dari orang tua untuk membantu anak menyelesaikan tugas tersebut. Bimbingan dari orang tua ini bisa berbentuk penjelasan jika anak tidak mengerti soal yang diberikan gurunya. Sikap seperti ini akan membuat anak merasa diperhatikan dan nantinya akan timbul sikap tanggung jawab dalam setiap hal.
2.       Biasakan setiap hari belajar. Walaupun tidak ada PR, bimbinglah anak agar gemar membaca dan mengerjakan soal. Aturlah waktu bersama untuk berkunjung ke perpustakaan atau toko buku.
3.       Berikan alat peraga yang berkaitan dengan proses belajar anak. Misalnya belajar Matematika tentang bangun ruang, gunakan alat peraga seperti bentuk balok, kubus, kerucut, dan bola serta berikan contohnya untuk benda tersebut yang ada di dalam rumah.
4.       Kenali kesukaan belajar anak. Biasanya ada anak yang suka mendengarkan musik sambil belajar, ada juga yang suka belajar dengan menggunakan gambar. Jika dalam kondisi demikian, pilihlah musik dan gambar yang sesuai dalam proses belajar anak.

Belajar adalah investasi anak Anda. Mari bimbing dan damping mereka agar anak displin dan berprestasi.
KEGIATAN AKSI BERSIH INDONESIA ALA GENBI KALTIM
*Writer By: Kuncari Isnawati

Lingkungan yang bersih menjadi dambaan semua orang.  Dimana di dalam lingkungan mencakup makhluk hidup yang membutuhkan kenyamanan dan kedamaian untuk bisa bertahan hidup. Salah satu kebutuhan yang paling penting adalah air. Tak dapat dipungkiri, semua makhluk hidup membutuhkan air untuk tumbuh dan berkembang biak. Air dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya air sungai, air laut, air hujan, air yang bersumber dari pegunungan dan lain-lain. Sorotan utama tentang air adalah air sungai. Dimana masyarakat menggunakan air tersebut untuk minum, mencuci, dan mandi. Namun, kebiasaan yang telah membudaya, masyarakat membuang sampah ke sungai yang sudah di ambang batas kewajaran. Sampah itu berupa sampah plastik, limbah rumah tangga, “jamban cemplung”, dan sampah dari pasar yang dibuang langsung ke sungai. Sungai  yang malang tersebut adalah sungai Karang Mumus yang terletak di Samarinda. Sungai yang mengalir sepanjang 34,7 km dari hulu ke hilir, kini kehilangan eksistensinya sebagai sungai yang bersih, indah dan airnya layak konsumsi. Sungai yang menjadi “tempat sampah” akibat kebiasaan masyarakat kini sudah menderita begitu pula habitat di dalam airnya.
Dari latar belakang itu lah, GenBI Kaltim melakukan Aksi Bersih Sungai yang bertema “Menjaga Air, Menjaga Kehidupa“. Kegiatan ini dilakukan Rabu, 21 Desember 2016, pukul 07.00- 12.30 WITA di Gang Nibung RT 27, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang.  Kegiatan Aksi Bersih Indonesia yang dilakukan GenBI Kaltim mengarah ke rehabilitasi sungai dengan melakukan berbagai kegiatan diantaranya: Aksi Bersih Sungai yaitu: memungut sampah langsung di sungai dengan menggunakan perahu, pengecatan jembatan Nibung agar kayu jembatan tidak rapuh, menyumbangkan 1 buah perahu, 2 buah dayung, 3 buah pelampung, 1 buah papan mading, ½ kubik kayu ulin ukuran 4 meter untuk memperbaiki jembatan Nibung yang miring akibat kurangnya kayu penyangga disebabkan terakhir di renovasi tahun 2009 dan di 2016 itu lah satu-satunya komunitas GenBI Kaltim membantu renovasi jembatan Nibung tersebut. Sumbangan 7 buah alat penjaring sampah, papan mading, plang nama yang bertuliskan Jembatan Nibung, serta event khusus yaitu: musikalisasi puisi, dan penampilan akustik, pembagian santunan 12 anak yatim di RT 27, dan pembagian doorprise untuk warga.
Adapun mekanisme kegiatan Aksi Bersih Indonesia sebagai berikut:
1.      Aksi Bersih Sungai
Dalam aksi ini, ada 5 buah perahu dari GenBI Kaltim, 2 speed boat dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan yang turut membantu. Setiap perahu berisi 5 orang beserta pengemudi perahu. Batasan daerah pemungutan sampah di sungai dibagi atas dua tim. Tim pertama memungut ke daerah jembatan pasar Segiri sedangkan tim kedua memungut ke jembatan Ruhui Rahayu.
2.      Aksi Bersih di Darat dan Pengecatan Jembatan
Pemungutan sampah dilakukan oleh warga di sekitar rumah mereka dari anak-anak hingga orang tua ikut berpartisipasi untuk membersihkan lingkungan. Adapun untuk renovasi jembatan, GenBI Kaltim bersama pak RT 27 mengarahkan warga untuk melakukan pengecatan jembatan. Warna cat jembatan tersebut adalah warna biru dan putih.
3.      Penyerahan Donasi
Penyerahan donasi berupa 1 perahu, 2 dayung, 3 pelampung, 1 buah papan mading, 7 buah alat penjaring sampah, ½ kubik kayu ulin ukuran 4 meter untuk tiang penyangga jembatan Nibung, 1 plang nama Jembatan Nibung, donasi ke 12 anak yatim, dan pembagian doorprise untuk masyarakat. Penyerahan ini diserahkan oleh Bank Indonesia kepada RT 27 dan di saksikan oleh elemen masyarakat yang hadir di acara tersebut.
Kegiatan ini dihadiri pula oleh Bank Indonesia dan GenBI Kaltim mengundang beberapa elemen masyarakat untuk turut serta dalam Aksi Bersih Indonesia ini. Diantaranya: Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kota Samarinda, KOPHI Kaltim, Tepian TV, Samarinda TV, Kaltim Post, Camat Sungai Pinang, Lurah Temindung Permai, Harmoni Akustik, dan warga RT 27 gang Nibung. Masyarakat sangat antusias melakukan aksi bersih ini dan senang sekali ada komunitas yang peduli terhadap lingkungan di Gang Nibung. Ke depannya, GenBI Kaltim masih terus memantau lingkungan di Gang Nibung RT 27 dan berdialog dengan masyarakat. Ini dilakukan agar tumbuh kesadaran agar masyarakat menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah di sungai Karang Mumus.


Kegiatan GenBI Goes To Loa Kumbar
4-5 Juni 2016
*Writer By: Kuncari Isnawati
                                              
          Kegiatan GenBI Goes To Loa Kumbar dilaksanakan selama 2 hari yaitu tanggal 4-5 Juni 2016. Adapun kegiatan ini dihadiri oleh pihak Bank Indonesia Kpw. Provinsi Kalimantan Timur, GenBI Kalimantan Timur 2016, dan segenap elemen masyarakat yang ada di desa Loa Kumbar. Dalam kegiatan ini terdapat beberapa rangkaian kegiatan yang terdiri atas:
1.     Sosialisasi SADARI ( Periksa Payudara Sendiri).
            Kegiatan ini diperuntukkan untuk ibu-ibu dan nenek-nenek yang ada di desa Loa Kumbar. Peserta yang hadir sebanyak 48 orang dengan pemateri Sri Pujiastuti, anggota GenBI Kaltim 2016. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk  meningkatkan kemampuan dan wawasan kepada perempuan , member pemahaman kepada peserta akan pentingnya memeriksa payudara sendiri secara berkala serta memberi informasi yang berkaitan dengan penyakit-penyakit yang dapat mengindap di payudara. Kegiatan ini juga adanya praktik untuk memeriksa payudara sendiri sebagai langkah awal mengetahui indikasi adanya penyakit kanker payudara.
2.  Sosialisasi MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu).
            Kegiatan ini diperuntukkan untuk ibu-ibu yang ada di desa Loa Kumbar. Peserta yang hadir sebanyak 48 orang. Sosialisasi MP-ASI ini di berikan oleh Asni Ashari selaku pemateri dari GenBI Kaltim 2016. Peserta yang hadir juga diberikan leaflet (brosur) tentang makanan pendamping ASI. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu yang memiliki bayi/balita untuk memberikan makanan pendamping ASI dan pentingnya mengkonsumsi makanan yang mengandung  gizi dan memenuhi 4 sehat 5 sempurna.


3. Pelatihan Pembuatan Ovitrap
            Pelatihan pembuatan Ovitrap ini dihadiri oleh remaja karang taruna yang ada di desa Loa Kumbar. Kegiatan ini dilaksanakan pada 5 Juni 2016. Dalam kegiatan ini remaja karang taruna langsung mempraktikkan cara membuat ovitrap. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan Ovitrap adalah gula merah, air cuka, dan ragi tape dan air. Alat yang digunakan berupa botol air mineral. Kegiatan ini bertujuan untuk menekan penggunaan desinfektan pembasmi nyamuk, memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk menggunakan bahan yang ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari serta  meningkatkan wawasan kepada masyarakat tentang bahan alami yang dapat diolah sendiri sebagai bahan yang dapat membasmi nyamuk.
4.   Gerakan Minum Susu.
            Kegiatan ini berupa penyuluhan kepada anak-anak di desa Loa Kumbar untuk gemar meminum susu setiap hari. Peserta yang hadir sebanyak 45 anak.  Dalam kegiatan ini peserta juga diberikan pengetahuan tentang manfaat meminum susu bagi kesehatan tubuh. Tujuan dari kegiatan ini menanamkan kebiasaan minum susu setiap hari  bagi anak-anak. Anak-anak terlihat antusias untuk mengikuti kegiatan penyuluhan ini. Dan di sesi terakhir, 45 anak mendapat susu cair yang dapat langsung diminum.
5. Sosialisasi Menabung.
            Peserta yang hadir  sebanyak 20 anak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai pentingnya menabung sejak dini, menanamkan dalam diri anak-anak untuk gemar menabung. Dalam kegiatan gemar menabung ini, anak-anak yang hadir diberikan kuis tentang menabung. Anak-anak terlihat senang mengikuti acara ini. Secara tidak langsung, mereka terpacu untuk menjadi yang terbaik dalam mengerjakan kuis yang diberikan oleh pemateri dari GenBI 2016 tentang menabung. Dalam sesi ini, anak-anak dijelaskan pula tentang bank sebagai tempat untuk menabung yang aman.

6. Women GenBI ( Water Treatment With GenBI)
            Women GenBI adalah kegiatan berupa sosialisasi mengenai Water Treatment atau dengan kata lain tentang penjernihan air. Peserta kegiatan ini adalah 40 remaja karang taruna desa Loa Kumbar dan dilaksanakan di balai pertemuan desa Loa Kumbar.
             Dapat diketahui, masyarakat desa Loa Kumbar menggunakan air sungai Mahakam untuk kehidupan sehari-hari seperti mencuci, memasak, mandi, dan mencuci pakaian. Air yang mengalir ke rumah-rumah masyarakat desa Loa Kumbar dialirkan dengan menggunakan pompa air yang terhubung langsung dengan sungai Mahakam. Adapun jadwal air di alirkan ke rumah warga adalah pagi hari.  Warga menggunakan air sungai secara langsung disebabkan tidak terjangkaunya PDAM yang ada di wilayah itu.
            Tujuan dari kegiatan ini memberikan pengetahuan kepada masyarakat desa Loa Kumbar mengenai penjernihan air agar air  dari sungai Mahakam dapat diolah kembali sebelum dikonsumsi.
7.   GenBI Creative Campaign
            Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Juni 2016. Peserta yang hadir sebanyak 45 orang.  Kegiatan ini berupa kampanye GenBI Kaltim di bidang lingkungan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat desa Loa Kumbar dan mengajak mereka untuk  menjaga lingkungan sekitar. Dalam kegiatan ini, masyarakat melihat tata cara mengolah sampah anorganik berupa plastik yang di olah menjadi bross untuk jilbab. Pemateri kegiatan ini adalah Marno Mukti dan Murniati, selaku pengelola Bank Sampah RAMLI (Ramah Lingkungan) yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur. Pemateri juga mempresentasikan berbagai cara dalam mengolah sampah organik.
            Tujuan dari kegiatan GenBI Creative Campaign adalah memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menerapkan prinsip 3 R (Re-use, Re-Duce, and Re-Cycle). Selain itu, memberikan pemahaman tentang konsep pengeloaan Bank Sampah, memberikan praktik mendaur ulang sampah menjadi barang yang bernilai jual dan bermanfaat. Contoh produk yang dihasilkan dari sampah yaitu: tas, bunga, taplak meja dari sedotan, bross dan bunga.

            Demikianlah rangkaian kegiatan GenBI Goes To Loa Kumbar yang telah dilaksanakan 4-5 Juni 2016. Kami sebagai GenBI Kaltim sangat senang karena kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar serta mendapat tanggapan positif dari masyarakat desa Loa Kumbar. Ke depannya, kami akan terus berkarya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dalam kegiatan sosial. Semangat kami yang tak pernah goyah bagai bara api yang menyala.  Semangat terbarukan yang bersemayam di hati kami menjadikan kami terus berkarya dan berdedikasi untuk negeri. Dalam mewujudkan itu, persatuan dan kesatuan merupakan pondasi utama untuk merealisasikan tujuan dan visi misi GenBI. Bersama Berkarya Untuk Bangsa, itu lah tujuan kami.
GenBI Luar Biasa !
(Kontent Figur)


Generasi Baru Indonesia adalah sebuah komunitas yang memberikan banyak inspirasi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. Baik dalam kegiatan sosial maupun pengembangan diri. Adanya sebuah kebersamaan untuk melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat menjadikan diri untuk terus berkarya tanpa batas.
Dalam setiap langkah menempuh pendidikan, beasiswa yang diberikan oleh Bank Indonesia sangat membantu saya dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mulawarman. Tak hanya itu, adanya pengembangan diri yang dituangkan dalam kegiatan Leadership Camp di bulan Juni 2015, Ciawi, Bogor  menjadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Susah “Move On”.  Sebuah anugerah bisa berangkat ke Bogor dan mengikuti kegiatan di Leadership Camp ini. Bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang memberikan inspirasi untuk terus menjadi yang terbaik. Menghilangkan rasa pantang menyerah dan terus semangat menggapai cita-cita. Sungguh tak terlukiskan perasaan bahagia saat mengikuti kegiatan di Bogor.
Selain hal di atas, pengalaman yang tak terlupakan juga berkarya bersama teman-teman di GenBI Kaltim 2015 dan GenBI Kaltim 2016. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Suka duka kami lalui. Namun, tak menggoyahkan semangat walaupun harus terbagi dengan kegiatan kuliah dan organisasi. Di saat inilah, perlunya mengatur waktu antara kuliah dan organisasi. Untuk menyiasati hal ini, saya selalu membuat time schedule  untuk setiap kegiatan yang akan saya lakukan. Sehingga dengan adanya ini, kegiatan kuliah dan organisasi dapat berjalan.
Bersama GenBI 2016, kegiatan sosial yang tak terlupakan adalah berkunjung ke Desa Loa Kumbar dan menginap di desa tersebut. Desa ini pada siang harinya listrik tidak menyala. Hanya pada malam hari saja listrik akan menyala dengan menggunakan genset. Untuk menjangkau daerah ini bisa melalui darat dan melewati daerah tambang batubara. Bisa juga melalui sungai Mahakam menggunakan perahu ces dan membayar lima belas ribu rupiah. Ini bagi saya adalah pengalaman yang luar biasa dapat bersama teman-teman GenBI 2016 melakukan kegiatan sosial untuk masyarakat di sana.
Hal lain yang saya lakukan selain di GenBI Kaltim adalah aktivitas mengajar privat siswa SD dan SMK serta saya telah mengajar di Primagama Kuantum Samarinda dari tahun 2012 hingga 2016. Dan saat ini saya berwirausaha dengan berjualan online dengan nama Prizzy Olshop Samarinda. Adapun yang saya jual adalah pakaian wanita, sepatu, dan jam tangan. Kemudian saya juga menerima pemesanan selempang nama untuk yudisium dan wisuda, menerima pemesanan camilan dengan nama Cimi-Cimi Criuk Cress, serta yang baru saya lakukan adalah menerima pemesanan desain mug/ gelas. Berbagai pencapaian ini adalah berkat doa kedua orang tua saya yang telah memberikan semangat dan tentunya anugerah Allah SWT. Menjadi wirausaha sejak muda adalah hal yang menyenangkan. Walaupun dimulai dengan susah payah, namun jika kita tekun dan dilakukan terus menerus maka akan membuahkan hasil. Jatuh bangun dalam usaha pasti ada, namun di sinilah saya harus tetap bertahan dan tidak lekas berhenti berwirausaha. Satu prinsip yang saya kukuhkan dalam diri dan pesan bapak saya “Dalam hidup ini jangan sombong, di atas langit masih ada langit. Luruskan niat dan jangan lupa berdoa untuk menggapai cita-cita”.

Semoga cerita singkat sederhana ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca dan harapan ke depan, Generasi Baru Indonesia khususnya GenBI Kalimantan Timur dapat memberikan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk menjadi hal ini, jangan pernah pantang menyerah dan gapai cita-cita walau rintangan selalu ada. Selalu junjung rasa persatuan dan satukan niat untuk menggapai yang terbaik.  Sukses terus untuk GenBI Kaltim ! Kobarkan Semangat Terbarukan. Bersama Berkarya Untuk Bangsa !

Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unmul

Pada awalnya berdirinya, 28 September 1962, UNMUL hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan....